Mengenal Gaya Belajar Anak

Posted on

Mengenal Gaya Belajar Anak – Tidak semua anak cocok dengan model belajar yang dikembangkan di sekolah, seperti duduk tenang, mendengarkan penjelasan guru, dan belajar dengan cara membaca buku. Belajar di kelas dalam bentuk ceramah/kuliah yang dipadukan dengan membaca buku adalah sebuah model belajar yang umum dalam dunia pendidikan di sekolah saat ini. Model belajar yang seperti ini telah lama digunakan oleh jutaan manusia selama bertahun-tahun.

Walaupun banyak orang merasakan efektivitas dari model belajar ini, adalah sebuah realita bahwa tidak seluruh anak cocok dengan model ini. Tidak semua anak suka duduk diam mendengarkan, tidak semua anak mendapatkan informasi dan pengetahuan secara efektif dengan cara membaca buku.

Dulu, kita mengetahui kisah Thomas Alfa Edison yang dikenal sebagai anak yang tidak bisa diam di kelas hingga ibunya kemudian menariknya dari sekolah untuk belajar sendiri di rumah (homeschooling). Di masa lebih modern, kita mendengar cerita Tetsuko Kuronayagi (Totto Chan), yang selalu ingin bercerita dan mengajak bicara orang-orang yang lewat di sebelah sekolahnya. Atau, kita juga membaca penuturan Robert T. Kiyosaki yang bermasalah dengan cara model belajar saat SMA hingga nyaris tidak naik kelas.

Ketiga orang tersebut dinilai “gagal” untuk beradaptasi dengan model belajar di sekolah umum. Tetapi, ketiga sosok tersebut adalah orang-orang yang berhasil dalam kehidupan profesional dan personalnya. Thomas Alfa Edison adalah penemu besar (great inventor), Tetsuko Kuronayagi adalah produser acara televisi di Jepang dan penulis terkenal, Robert T. Kiyosaki adalah pengusaha dan konsultan bisnis yang sukses.

Ragam Gaya Belajar
Salah satu hal yang mempengaruhi efektivitas belajar anak-anak adalah gaya belajar (learning style) mereka. Walaupun gaya belajar bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, pemahaman terhadap gaya belajar anak dan stimulus yang sesuai dengan gaya belajar akan meningkatkan efektivitas proses pembelajaran.

Perhatian terhadap variasi Gaya Belajar Anak pada saat ini semakin meningkat seiring meningkatknya penerimaan terhadap keragaman anak dan potensi individualnya. Masyarakat semakin memahami bahwa gaya belajar tidak hanya dengan buku pelajaran dan mendengarkan penjelasan guru di kelas. Banyak ragam gaya belajar, demikian pula dengan cara anak menyerap informasi yang bermanfaat bagi dirinya.

Hingga saat ini, terdapat sekitar 80 jenis teori gaya belajar, diantaranya adalah model Visual-Auditory-Kinesthetic (VAK) dan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences, MI). Model VAK mengkategorikan gaya belajar ke dalam tiga bentuk umum, yaitu Visual Learning (gaya belajar dengan melihat), Auditory Learning (gaya belajar dengan mendengar), dan Kinesthetic Learning (gaya belajar dengan melakukan). Sementara itu, model Kecerdasan Majemuk yang dikembangkan Howard Gardner membuat kategori yang lebih luas, yaitu: Visual (spatial), Aural (auditory-musical), Verbal (linguistic), Physical (kinesthetic), Logical (mathematical), Social (interpersonal), dan Solitary (intrapersonal).




Baca Juga Artikel Bermanfaaat Berikut:

Walaupun pengkategorian gaya belajar dibuat untuk membuat distingsi antar-gaya belajar, tidak berarti bahwa satu anak hanya memiliki satu model belajar saja. Pada sebagian besar orang, Gaya Belajar Anak yang dimiliki merupakan kombinasi beberapa kecenderungan dengan penekanan/sisi kuat pada satu atau beberapa aspek.

Mengenali Gaya Belajar
Sebagaimana ditulis oleh Dita, praktisi homeschooling yang juga psikolog yang tinggal di Surabaya, proses perkembangan dan kecenderungan gaya belajar manusia juga dipengaruhi oleh faktor umur. Artinya, ada masa anak-anak memiliki kecenderungan kinestetik, kemudian semakin visual, dan kemudian auditory. Tetapi, tidak sedikit juga orang dewasa yang tetap memiliki kecenderungan gaya belajar dengan cara kinestetik dan visual.

Salah satu hal yang dapat kita lakukan untuk dapat meningkatkan efektivitas kita sebagai orangtua adalah berusaha mengenali gaya belajar anak-anak kita. Proses itu dapat kita mulai dari pengenalan terhadap gaya belajar kita sendiri dan gaya belajar pasangan kita. Pengenalan terhadap gaya belajar pribadi dan pasangan kita akan membantu kita memahami gaya belajar anak-anak kita. Sebab, Gaya Belajar Anak memiliki kecenderungan mirip dengan orangtuanya.

Proses identifikasi gaya belajar dapat dilakukan dengan mengikuti tes model belajar yang sebagian diantaranya dapat diperoleh gratis di Internet. Proses itu juga dapat dilakukan dengan berkonsultasi secara langsung dengan profesional di bidang psikologi.

Pengenalan terhadap ragam gaya belajar dan Gaya Belajar Anak adalah salah satu modal untuk membangun sikap empatik. Sebagai orangtua, kita tak lagi memaksakan sebuah gaya belajar tertentu pada anak. Demikian pun, kita tak lagi bingung kala mendapati anak-anak belajar dengan gaya belajar yang berbeda dengan kebiasaan kita pada waktu sekolah dahulu.